Prof. Suyanto, Ph.D. | Universitas Negeri Yogyakarta「 menonton jaringan gratis」

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Bar Post NBA

Untuk itu, mantan Ketua Komite Reformasi Pendidikan Indonesia menandaskan bahwa ada dua faktor yang paling menentukan kualitas pendidikan global, kesatu, kualitas dan profesionalisme guru; kedua, kultur masyarakat yang menaungi serta melandasi proses dan kehidupan pendidikan itu sendiri, di samping cukup memadai tidaknya investasi pendanaan bagi pendidikan di negara yang bersangkutan. Kedua faktor ini merupakan modal yang telah dimiliki negara  seperti Finlandia dan Korea Selatan. Indonesia sendiri, sesungguhnya telah memilikinya tinggal bagaimana mengimplementasikannya.

Lantas apa yang dipetik dari laporan The Learning Curve Report ini? Dosen Fakultas Ekonomi (FE) UNY ini menuliskan bahwa negara-negara yang dulunya hebat, saat ini tidak mampu mengungguli Finlandia dan Korea Selatan. Dua negara inilah yang disebut Negara Adidaya (Pendidikan) saat ini. Peringkat AS sebagai negara yang dikenal sangat adidaya (super power) jauh tertinggal dibandingkan dua negara ini. AS menduduki peringkat ke-17, persis di bawah Belgia. Bagaimana dengan Indonesia? Negara kita, tulis mantan aktivis mahasiswa ini masih harus banyak bekerja karena berada pada urutan ke-40. Berikut 10 negara adidaya bidang pendidikan: (1) Finlandia; (2) Korea Selatan; (3) Hongkong; (4) Japan; (5) Singapura; (6) Inggris; (7) Belanda; (8) Selandia Baru; (9) Swiss; dan (10) Kanada.

Gagasan ini terlahir atas laporan monumental Pearson dalam The Learning Curve Report. Sebagaimana dikutip Suyanto dalam KR (Rabu, 9/1), Pearson membuat peringkat kualitas pendidikan global atas dasar hasil tes para siswa dari negara-negara yang dijadikan subjek studinya dibandingkan dengan input pendidikannya seperti investasi pemerintah, guru, dan sarana-prasarana. Tes ini meliputi tiga jenis instrumen asesmen terhadap prestasi yang dilaksanakan secara internasional, yaitu (1) PISA (The Programme for International Student Assesment), sebuah studi berskala internasional dalam bidang performa skolastik pada mata pelajaran matematika, sain, dan membaca bagi siswa usia 15 tahun; (2) TIMMS (The Trends in  International Mathematics and Science Study), sebuah asesmen internasional dalam mata pelajaran matematika dan sain bagi siswa kelas 4 dan 8 di seluruh dunia; dan (3) PIRLS (The Progress in International Reading Leteracy Study), sebuah studi internasional tentang prestasi belajar siswa kelas 4 dalam mata pelajaran membaca.

Belajar dari Adidaya Baru: Finlandia dan Korea Selatan

Hari ini, Rabu, 9 Januari 2013 sosoknya kembali muncul di koran terbesar DIY-Jateng, Kedaulatan Rakyat (KR) pada rubrik Analisis bertajuk Adidaya Pendidikan Kelas Dunia. Tulisan ini secara umum “menitahkan” pembaca untuk segera “menanggalkan” mitos keadidayaan Amerika Serikat (AS) menuju keadidayaan Finlandia dan Korea Selatan. Pergeseran adidaya global baru ini bukan bertumpu pada kekuatan militer, ekonomi, ataupun teknologinya, tetapi pada keadidayaan dunia pendidikannya. Sungguh luar biasa!

“Budaya membaca, menulis, dan bekerja adalah hal yang wajib dikembangkan oleh stakeholder, akademisi, dan subjek pendidikan lainnya,” tegas mantan Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemdiknas ini. (laode/aw)

Adalah Prof. Suyanto, Ph.D., Direktur Jenderal  (Dirjen) Pendidikan Dasar (Dikdas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI yang kembali menginspirasi kita pada edisi kali ini. Sebagai mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang dulunya terkenal dengan jargonnya Publish or Perish, Prof. Suyanto tetap meluangkan gagasannya di pelbagai media massa, meskipun kesibukan cukup menyita waktunya. Bagi pria kelahiran Magetan, 2 Maret 1953 menulis adalah kebutuhan hidup. Dengan menulis, kita akan abadi dan bisa melihat dunia sekaligus isinya. Beda halnya, jika kita tidak menulis maka kita akan sirna bersama angin. Aktivitas ini mulai senang dilakoni sejak Prof. Suyanto menamatkan pendidikan doctoral di College of Education, Michigan State University, Amerika Serikat .